Harga Emas Melesat, “Dokter Kiamat” Sebut Saatnya Beli

Gold bars are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

 Harga emas dunia melesat pada pekan ini setelah sebelumnya merosot empat minggu beruntun. Perekonomian Amerika Serikat (AS) yang diprediksi akan mengalami resesi yang cukup para membuat permintaan emas sebagai safe haven meningkat.

Melansir dara Refinitiv, emas sepanjang pekan ini melesat nyaris 2,5% ke US$ 1.854/troy ons. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak pertengahan Januari lalu.

Inflasi di Amerika Serikat yang masih tinggi diprediksi membuat bank sentral AS (The Fed) akan kembali agresif menaikkan suku bunganya. Hal ini bisa membawa perekonomian AS memasuki resesi.

Terbukti, meski suku bunga diperkirakan masih akan naik tinggi, kinerja dolar AS tidak terlalu bagus. Pada pekan ini, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS ini malah turun 0,66%.

Pasar saham dan obligasi pun diprediksi akan merana selama bertahun-tahun oleh ekonom Nouriel Roubini atau yang dikenal dengan “Dr Doom” alias “Dokter Kiamat”.

Roubini mendapat predikat tersebut setelah memprediksi terjadinya krisis finansial global 2008 dan benar terjadi.

Kini ia memprediksi inflasi di Amerika Serikat akan bertahan di kisaran 6% sangat jauh dari target bank sentral AS (The Fed) 2%.

“Jika saat benar, rata-rata inflasi tidak akan sebesar 2%, tetapi 6%. Kemerosotan yang kita lihat pada tahun lalu pada saham dan obligasi akan menjadi lebih parah dalam beberapa tahun ke depan,” kata Roubini dalam wawancara denganCNN, Kamis (23/2/2023).

Kini ia memprediksi inflasi di Amerika Serikat akan bertahan di kisaran 6% sangat jauh dari target bank sentral AS (The Fed) 2%.

“Jika saat benar, rata-rata inflasi tidak akan sebesar 2%, tetapi 6%. Kemerosotan yang kita lihat pada tahun lalu pada saham dan obligasi akan menjadi lebih parah dalam beberapa tahun ke depan,” kata Roubini dalam wawancara denganCNN, Kamis (23/2/2023).

Roubini menyebut investor saat ini harus keluar dari saham dan obligasi, dan berinvestasi ke aset yang memiliki lindung nilai terhadap inflasi seperti emas.

 

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*