Dulu Pasrah Tak Bisa Bayar Kuliah, Kini Bos Raja Ecommerce RI

Founder and CEO of Indonesian e-commerce firm Tokopedia, William Tanuwijaya, gestures as he talks during an interview at Tokopedia headquarters in Jakarta, Indonesia, July 25, 2019. Picture taken July 25, 2019. REUTERS/Willy Kurniawan

Setelah 18 tahun tumbuh besar di Pematang Siantar, Sumatra Utara, William Tanuwijaya memulai fase kehidupan baru. Dia diharuskan merantau ke Jakarta untuk berkuliah demi kehidupan yang lebih baik.
Tepat pada 1999, William berangkat seorang diri dengan menumpang kapal dari Pelabuhan Belawan. Selama 4 hari 3 malam, dia menghadapi derasnya ombak Selat Malaka hingga akhirnya sampai di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Di ibukota dia segera menemui pamannya yang lebih dulu tinggal di sana.

William berkuliah Teknik Informatika di Universitas Bina Nusantara (Binus) di Jakarta. Tahun pertama kuliah berjalan lancar. Namun, memasuki tahun kedua keluarganya ditimpa musibah. Bapaknya jatuh sakit, sehingga tidak lagi mampu mendanai kuliah William.

Kejadian ini membuat pria kelahiran 11 November 1981 ini harus berputar otak. Satu-satunya cara yang bisa ditempuh adalah bekerja.

“Karena tak punya pengalaman, pekerjaan yang saya bisa ambil sangat terbatas. Karena di sekitar kampus banyak warnet, saya melamar menjadi penjaga warnet,” kata William dalam acara Big Bang Show di KompasTV.

Meski dipandang remeh, keputusan William bekerja sebagai penjaga warnet menjadi titik tolak kehidupannya. William yang sama sekali buta dengan internet, menjadi jatuh cinta kepadanya. Baginya, internet membuka mata dia akan pengetahuan yang tersebar luas. Dia yang sejak sejak kecil gemar membaca lantas melihat hal ini sebagai sesuatu yang tak bisa disia-siakan.

Selama menjadi penjaga warnet itulah, William setali tiga uang. Dia dapat penghasilan untuk membayar kuliahnya, sekaligus juga punya kesempatan belajar lebih luas yang tentunya secara gratis. Tak masalah baginya apabila bolos kuliah. Toh, dia bisa belajar otodidak lewat internet.

Pekerjaan ini dilakoni hingga lulus kuliah pada 2003. Setelah lulus, layaknya mahasiswa informatika pada umumnya yang punya mimpi bekerja di Google, William pun demikian. Namun, mimpi tersebut sirna. Dia harus menghadapi realitas bekerja sebagai sektor software engineer di perusahaan lokal selama bertahun-tahun.

Meski hanya sebagai pegawai biasa, mimpi tersebut selalu terpatri di benak William. Hingga pada 2007, dia berupaya mewujudkannya karena melihat peluang besar bahwa industri teknologi Indonesia akan maju. Dia ingin mendirikan suatu perusahaan jual-beli layaknya Amazon, ebay, atau Alibaba ala Indonesia.

Dalam podcast Close The Door, William terinspirasi terhadap konsep American Dream. Bahwa kehidupan semua orang harus lebih baik dan kaya lewat kemampuan atau prestasinya tanpa mengenal kelas sosial atau kondisi lahir. Dia harus seperti orang-orang sukses di Silicon Valley yang mampu mendirikan perusahaan teknologi ternama di dunia.

Pikirnya, jika dia tidak bisa bekerja di Google atau Facebook, dia harus membuat perusahaan serupa di Indonesia.

Untuk merealisasikan ini dia bekerja sama dengan temannya, Leontinus Alpha Edison. Keduanya menjajakan proposal usaha kepada para investor yang kebetulan adalah kenalan bosnya di perusahaan tempat mereka bekerja. Namun, usaha ini menemui jalan terjal.

Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk mempercayai para investor. Sebab, proposal tersebut dipandang sebagai khayalan dan tak mampus direalisasikan di Indonesia.

Singkat cerita, setelah datang dari kantor ke kantor lain, keduanya dapat satu investor, yakni bosnya tempat dia bekerja. Dana yang dikucurkan sebanyak Rp 2,4 milliar.

Perusahaan rintisan yang dicetuskan keduanya awalnya akan diberi nama Belanjaaman.com, lalu berubah lagi menjadi Kopaja.com, kependekan ‘Toko Apa Saja”. Hingga akhirnya mereka memutuskan menamainya Tokopedia.com, kombinasi “Toko” dan ensiklopedia.

Tepat di di kemerdekaan RI ke-64, atau 17 Agustus 2009, Tokopedia diluncurkan. Lambat laun, Tokopedia mendapat pendanaan terbesar sepanjang sejarah dari Sequoia dan Softbank sebesar US$ 100 juta. Sejak itu, Tokopedia menjelma menjadi raksasa e-commerce Indonesia yang menjadi tempat jual-beli berbagai produk.

Kini, Tokopedia merger dengan perusahaan rintisan terbesar di Indonesia besutan Nadiem Makarim, yakni Gojek. Merger tersebut melahirkan entitas bisnis besar bernama GoTo pada 1 Januari 2022.

William pun sudah melepaskan jabatannya sebagai CEO di Tokopedia. Fokusnya kini lebih luas, sebagai salah satu Komisaris Utama GoTo bersama Garibaldi Thohir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*